mochammad.aditya.h.p's blog

La Tahzan

teknologi, pendukung atau pelawan kodrat?

Teknologi bayi tabung, suatu hal yang mungkin sering kita dengarkan pemberitaannya tentang bagaimana pro dan kontranya. Teknologi ini dapat diartikan sebuah implementasi dari teknologi yang berkembang yang berupa proses penyatuan atau pembuahan sel sperma dan sel ovum yang dilakukan di luar rahim sang ibu kemudian disimpan dalam rahim.

Teknologi yang dirintis pertama kali oleh PC Steptoe dan RG Edwards pada 1977 ini menimbulkan banyak pertentangan diantara orang awam dan para ulama. Beberapa pro dan kontra itu lebih banyak mentitik beratkan pada asal muasal sel sperma dan sel ovum tersebut serta dimana dan bagaimana cara menyimpannya dalam rahim. Setelah saya membaca beberapa artikel yang terkait tentang bayi tabung ini saya mendapatkan beberapa point penting, diantaranya :

  • Penggunan teknologi bayi tabung untuk tujuan mendapatkan keturunan itu boleh dalam hukum islam, namun juga dalam konteks keadaan yang mendesak dan benar benar dibutuhkan. Hukumnya Mubah
  • Teknologi bayi tabung yang dilakukan oleh suami istri yang sah namun disimpan dalam rahim lain itu hukumnya haram. Mengapa? karena dikhawatirkan akan timbul permasalahan dalam pembagian harta warisan nantinya.
  • Hukum diatas juga berlaku jika penggunaan teknologi bayi tabung ini dilakukan oleh pasangan yang tidak menikah karena hal tersebut sama saja dengan perbuatan zina.
  • berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam hukum islam penggunaan teknologi bayi tabung tersebut hukumnya mubah ( diperbolehkan ) namun hal tersebut juga perlu diperhatikan tentang bagaimana esensi dan dampaknya kedepan serta perlu diperhatikan pula bagaimana prosedur-prosedur yang perlu agar penggunaan teknologi dan prosesnya agar tetap sesuai syariat. kita dapat menggunakan teknologi ini jika dirasa itulah salah satu jalan untuk mendapatkan keturunan namun secara psikis tidak mampu melakukannya.

    Potensi timbulnya masalah dari implementasi teknologi bayi tabung ini sebenarnya lebih menitikberatkan jika kita tidak mengaplikasikannya sesuai dengan ketentuan yang ada, misal menitipakan pada rahim yang bukan merupakan induk aslinya ataupun sel sperma dari suami yang telah meninggal dunia. hal tersebut tentu akan menimbulkan masalah di kemudian hari tentang pembagian warisan dan penentuan hak asuh anak nantinya.

Pursuit of “indonesian” Happiness

Ketika membuka dan mempelajari sedikit artikel tentang HPI dan segala tetek bengeknya, saya menjadi teringat akan salah satu film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu, yaitu Pursuit of Happines. Mengejar kebahagian, itulah pokok inti dari film tersebut yang menurut saya lumayan menginspirasi. Inti ceritanya adalah mengajarkan tentang bagaimana seharusnya kita mengejar kebahagiaan, jangan mudah putus asa, jangan mudah mengeluh pada keadaan yang ada, dan juga intinya harus sabar. Kesabaran itu mutlak diperlukan karena sesuai janji-Nya dalam QS Al Insyirah (5-6): “Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”.

Hasil yang mengejutkan terjadi ketika saya melihat HPI result tabel. Pada tabel tersebut terlihat bahwa negara tercinta kita Indonesia berada di peringkat 16 dengan total nilai HPI 58,9. Nilai ini ternyata cukup jauh diatas Belanda yang mempunyai nilai HPI tertinggi diantara negara-negara eropa lainnya. Nilai HPI Belanda adalah 50,6.

Mengapa hal itu bisa terjadi?
Berdasarkan paparan yang dituliskan oleh nef dapat diketahui beberapa point penting yang menjadi sebuah indikator penilaian dari HPI itu sendiri, yaitu angka harapan hidup, tingkat kepuasaan, dan ecological footprint.
Sebenarnya jika kita lihat detilnya lebih lanjut, ternyata angka harapan hidup orang-orang indonesia masih sama dengan rata-rata angka harapan hidup orang orang di seluruh dunia dan tidak dapat dikatakan tinggi untuk nilai 69,7. Nilai kepuasan hidup juga masih standard umum dengan nilainya adalah 5,7. Namun nilai ecological footprint indonesia bisa dikatakan rendah dengan hanya bernilai 0,9. Point inilah yang menurut perhitungan HPI secara eksak menjadikan peringkat HPI indonesia ada di urutan 20 besar.

Uraian yang dipaparkan nef tentang nilai HPI pada hampir semua negara di dunia ini memang mampu menampilkan data data eksak yang menunjukkan bagaimana tingkat kebahagian pada suatu negara dengan melihat beberapa aspek yang telah disebutkan diatas. Namun menurut pendapat saya, kebahagian tetap tidak dapat diukur hanya dengan sebuah angka-angka, namun perlu ditelaah lebih lanjut tentang bagaimana budaya dan adat istiadat yang berkembang di negara tersebut, selain itu mitos, idealisme, kepercayaan, dan ideologi dari suatu negara juga berpengaruh besar terhadap tingkat kebahagian suatu negara. Kebahagian merupakan hal yang terlalu kompleks jika hanya dinilai dari beberapa aspek, dibutuhkan cukup ataupun lebih banyak aspek untuk mendefinisikan dan mengukur tingkat kebahagian itu sendiri. Lalu bagaimana seharusnya kita mengukur suatu kebahagian itu sendiri? Tidak ada yang tahu pasti, karena rasa bahagia itu murni dari hati, berbeda untuk tiap orang yang merasakaannya dan timbul ketika tahu bagaimana menikmati hidup dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada serta mensyukuri semua yang ada.

Maka dari itu kejarlah dan ciptakan kebahagiaanmu sendiri.:D

Mental Bajakan : Sebuah Budaya Unik dan “Eksotik“ di Negara Hukum yang Tidak Pandai Menghukum

Selamat malam bagi para pengguna internet sekalian yang saat ini sedang membaca, ngeksis di jejaring sosial dan juga mungkin sedang mendownload lagu-lagu terbaru atau mungkin film-film box office. Maaf, mungkin waktunya salah kalau saya bilang selamat malam ( kalau ada yang baru baca artikel ini pagi hari, siang hari ataupun dini hari ). Tapi saya memang ingin mengucapkan selamat malam karena saya membuat artikel ini malam hari.

OP

ok kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pemanfaatan dunia tidak nyata atau yang biasa disebut dengan internet dan segala lika liku kebaikan dan kebelumbaikannya disana. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa pemanfaatan internet di kalangan muda kebanyakan adalah untuk mengunduh berbagai file musik, film, gambar, ataupun software. Kita pun tahu bahwa kebanyakan konten-konten digital yang kita unduh tersebut statusnya adalah BAJAKAN, tidak resmi, crack-crackan. Menurut sepengetahuan saya, pemanfaatan internet untuk berbagi konten digital itu sah-sah saja karena memang seperti itulah manfaat internet, tapi konten-konten digital yang dibagikan itu bukan konten ilegal. Pemanfaatan internet dalam konteks ini jelas jelas salah secara hukum dan melanggar etika dalam menghargai usaha keras orang lain. Namun melihat realita yang ada saat ini tentu akan berbeda hukumnya, seperti negara kita Indonesia yang katanya “Negara hukum yang tidak pandai menghukum”.

Realitanya, kita melihat kita sendiri tidak bisa bebas dari yang namanya konten bajakan dan alasannya semua sudah tahu pasti yaitu tentang harga. Harga dari software, lagu, dan film yang kita unduh dan gunakan itu bisa mencapai jutaan dolar.jika kita ingin membeli yang asli atau berlisensi. Indonesia yang rata-rata penghasilan pendudukannya masih tergolong rendah tentu akan sangat sulit mewujudkan hal tersebut. Dengan kondisi seperti itulah maka seolah-olah semua sistem di Indonesia mulai mengkondisikan diri dengan adanya konten-konten ilegal yang bertebaran di Internet. Pengkondisian ini terlihat banyak terjadi di beberapa perusahaan ataupun toko-toko komputer yang menjual jasa penginstalan sistem operasi bagi para konsumennya. Karena tiap harinya kita dimanjakan dengan berbagai konten ilegal, maka pemanfaatan internet dalam hal tersebut terasa menjadi hal yang lumrah dan wajar sehingga mental bajakan pun terbentuk.

bajak

Lalu bagaimana solusinya ? Yang pertama jelas butuh kesadaran dari tiap individunya masing-masing. Yang kedua, paksakanlah diri kita untuk menggunakan konten konten digital yang gratis meskipun secara kualitas konten digital yang berbayar dan berlisensi lebih bagus dibandingkan konten-konten digital yang gratisan. Yang terakhir, ya tetap harus diusahakan bagaimanapun caranya, setidaknya kita berusaha mencari pengganti yang cukup sepadan dengan konten digital yang kita gunakan sebelumnya. Misal, kita dapat menggunakan Ubuntu sebagai pengganti OS Windows, OpenOffice sebagai pengganti MS Office. Catatan terakhir penutup artikel ini, kita mungkin saja masih bisa menggunakan konten-konten digital ( software ) bajakan selama konten tersebut membawa perubahan kemajuan yang signifikan terhadap pengembangan diri kita dan dirasa belum menemukan konten digital pengganti yang cocok, selain itu dikhawatirkan jika diganti dengan software lain justru akan membuat perubahan itu berjalan mundur. Jadi bijak-bijaklah dalam memilih menggunakan berbagai konten digital yang ada di internet.

Semoga Bermanfaat !

We make our own happiness

happines

Kita yang akan buat kebahagian kita sendiri, tidak peduli bagaimanapun pahitnya kehidupan ataupun bagaimana pandangan orang lain terhadap kehidupan kita.  Dalam setiap aspek kehidupan, kita selalu mempunyai alasan untuk mensyukuri apa saja yang kita punya sekecil apapun itu karena dengan bersyukurlah maka kita dapat membuat kebahagian itu sendiri.

Pelajaran ini saya dapat ketika mengikuti salah satu mata kuliah di fakultas MIPA, Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika, Prodi ELEKTRONIKA dan INSTRUMENTASI. Letak fakultas MIPA ini sendiri terletak di dekat mirota kampus, lebih tepatnya di Sekip Utara Bls, Yogyakarta 55281. Kembali ke topik awal, saya mendapatkan pelajaran berharga ini dari mata kuliah etika profesi dan bisnis beberapa hari yang lalu. Dalam mata kuliah tersebut, para mahasiswa dipertontonkan sebuah sajian film epik nan menggelitik sekaligus menyadarkan kita sebagai mahasiswa tentang suatu barang yang pasti kita sudah mengenalnya yaitu sampah. Video tersebut menceritakan tentang bagaimana pengelolaan sampah dan nasib para pemungut sampah itu sendiri di London dan di Indonesia, terutama kota Jakarta.

Imam dan mobil sampahnya

Film dokumenter yang dibuat oleh BBC ini menceritakan tentang perbedaan yang mencolok antara tukang sampah yang ada di London, Inggris dengan tukang sampah yang ada di Jakarta, Indonesia. Kebudayaan, kebiasaan dan kesadaran tiap unit nyawanya tentang sampah juga dapat dilihat perbedaannya secara tersirat pada film berdurasi kurang lebih 59 menit ini. masyarakat di London sudah terbiasa memilah jenis sampah dan menaruhnya dalam satu atau beberapa kantong plastik sehingga tempat sampah disana tidak tampak kotor dan menjijikkan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Indonesia dan saya tidak perlu menjelaskan karena semua juga sudah tahu. Selain itu, masih banyak juga perbedaan-perbedaan yang ditampilkan dalam film tersebut.  Beberapa perbedaan itulah yang membuat saya merasa sedikit iri hati dan malu dengan kondisi yang ada di negara kita tercinta. Sempat terbesit dalam benak saya ,”kenapa negara kita tidak bisa atau mungkin belum bisa seperti itu ?” , namun dalam beberapa menit menjelang akhir tayangan saya menjadi sadar bahwa perbedaan-perbedaan itu tidak terdapat pada kebahagiaan keluarga mereka. Imam dan Wilbur ( 2 tokoh utama dalam film ini ) sama-sama memiliki keluarga dan tidak tampak adanya perbedaan menikmati canda tawa bersama keluarga.

Film dokumenter ini dilihat dari sisi  yang berbeda memberikan pelajaran bahwa jenis profesi tidak mutlak mempengaruhi kebahagian kita. Apapun profesinya asalkan kita ikhlas menjalaninya serta sungguh-sungguh tentu akan memberikan kepuasan dan kebahagian tersendiri bagi para pelakunya. Kebahagian tergantung bagaimana cara kita mengamati dan menikmati tiap momennya. Ada pepatah mengatakan “daripada mengutuk pada kegelapan, lebih baik mencoba menyalakan lilin”  yang kemudian saya artikan sebagai berikut : daripada kita mengeluhkan tentang kondisi kita sekarang dan mempertanyakan keadilan Allah SWT, lebih baik kita bergerak dan berbuat aksi nyata untuk perubahan kehidupan kita serta yakinlah bahwa Allah SWT adalah sebaik-baiknya yang memberi keadilan. Akhir kata seburuk apapun kondisi kita saat ini, selalu berusahalah membuat kebahagian itu sendiri.